Setelah 35, Tubuh Makin Lambat Membangun Otot — Ini yang Penelitian Bilang

Published: 2026-06-08·Ditulis oleh tim editorial My Health N Wellness
⏱️ 6 menit baca • Berbasis bukti

Setelah 35, Tubuh Makin Lambat Membangun Otot — Ini yang Penelitian Bilang

Makan masih sama, olahraga juga nggak dikurangin, tapi kok badan makin susah recover dan makin susah kencang? Ini bukan perasaan kamu doang, lho. Setelah usia 35, ada perubahan biologis nyata yang terjadi di tubuh — dan penelitian sudah cukup jelas soal ini.

Apa yang Sebenarnya Berubah Setelah 35?

Mulai pertengahan usia tiga puluhan, tubuh mulai kehilangan massa otot sekitar satu sampai dua persen per tahun. Para ilmuwan menyebut proses ini sarkopenia — penurunan otot rangka secara bertahap yang makin cepat seiring bertambahnya usia. Di usia lima puluhan, efeknya udah susah banget diabaikan.

Tapi bukan cuma soal "otot berkurang berapa." Yang lebih penting adalah seberapa efisien tubuh bisa membangun kembali otot itu. Setelah latihan beban atau aktivitas fisik, otot perlu diperbaiki dan tumbuh — proses ini disebut sintesis protein otot. Setelah 35, proses ini mulai melamban. Sinyal untuk "membangun" masih ada, tapi responnya sudah nggak sekuat dulu.

Sebuah penelitian 2019 yang diterbitkan di Journal of Physiology menemukan bahwa jaringan otot yang lebih tua menunjukkan respons anabolik yang lebih rendah terhadap asupan protein dibanding otot muda — artinya, makanan yang sama bisa mendorong pertumbuhan otot di usia 25, tapi jauh kurang efektif di usia 45.

Peran Hormon dan Peradangan

Sebagian besar perubahan ini dipicu oleh hormon. Testosteron, hormon pertumbuhan, dan IGF-1 — semuanya penting untuk pemulihan otot — mulai turun setelah pertengahan tiga puluhan. Untuk perempuan, estrogen yang juga melindungi otot turun drastis saat perimenopause.

Bersamaan dengan itu, peradangan kronis tingkat rendah makin umum seiring bertambahnya usia. Ini bikin tubuh lebih lambat beralih ke "mode pemulihan" setelah olahraga. Bayangkan kayak mau bangun rumah, tapi tim pembersih puing-puingnya super lambat kerja — ya nggak bakal beres-beres dong.

Gaya hidup kurang gerak memperparah semuanya

Banyak pekerja kantoran di Jakarta dan kota besar lainnya udah kehilangan banyak aktivitas gerak harian — entah karena duduk seharian di depan laptop atau macet di jalan. Makin sedikit gerak, makin sedikit sinyal yang diterima otot untuk tetap aktif, dan ini memperparah penurunan otot yang memang sudah terjadi secara alami.

Apa yang Terbukti Efektif Menurut Penelitian

Kabar baiknya, penelitian juga cukup jelas soal apa yang works. Penurunan otot itu nyata, tapi bukan berarti nggak bisa ditangani.

1. Latihan beban — dan dilakukan secara konsisten

Angkat beban atau latihan tubuh sendiri (bodyweight) masih jadi cara paling efektif untuk mempertahankan dan membangun otot di usia berapa pun. Review 2021 di Sports Medicine membuktikan bahwa latihan beban progresif bisa secara signifikan mengurangi kehilangan otot akibat usia — bahkan pada orang di atas 60 tahun. Kata kuncinya adalah "progresif": terus tantang ototmu, bukan sekadar jalan di tempat dengan rutinitas yang sama terus.

2. Prioritaskan protein — dan sebarkan sepanjang hari

Asupan protein makin penting setelah 35, bukan makin berkurang. Karena respons sintesis protein otot sudah melamban, membagi protein ke beberapa waktu makan — bukan numpuk semua di makan malam — membantu tubuh memanfaatkannya lebih maksimal. Penelitian terus menunjuk leucine, asam amino yang banyak ditemukan di protein hewani dan protein nabati berkualitas, sebagai pemicu utama pembentukan otot.

Kalau makan sehari-harinya berat ke karbohidrat — nasi goreng, gorengan dari warung, makan siang nasi campur tapi porsi proteinnya cuma sedikit — mungkin udah saatnya nih cek ulang komposisi piringmu.

3. Pastikan vitamin D dan omega-3 cukup

Dua nutrisi yang terus muncul dalam literatur kesehatan otot adalah vitamin D dan asam lemak omega-3. Reseptor vitamin D ada di jaringan otot, dan kekurangan vitamin D dikaitkan dengan fungsi otot yang menurun. Omega-3 tampaknya meningkatkan respons sintesis protein otot, terutama pada orang yang lebih tua. Penelitian 2012 di American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan omega-3 meningkatkan laju sintesis protein otot pada orang dewasa yang lebih tua.

4. Tidur cukup dan kelola stres

Pemulihan otot terjadi terutama saat tidur. Kurang tidur kronis meningkatkan kadar kortisol — hormon stres yang aktif memecah jaringan otot. Kalau kamu sering korbankan tidur demi lembur, bisa jadi kamu sedang menghancurkan sendiri hasil kerja kerasmu di gym.

Perlu dicatat: Kesadaran soal suplemen di kalangan anak muda perkotaan memang makin tinggi. Tapi suplemen itu pelengkap dari pola makan yang baik dan latihan konsisten — bukan penggantinya. Benerin dasarnya dulu, itu yang paling penting. BPOM dan Kemenkes juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam memilih suplemen.

Perubahan Mindset yang Paling Penting

Setelah 35, tujuannya sedikit bergeser. Bukan lagi hanya soal penampilan — ini soal investasi jangka panjang untuk mobilitas, kesehatan metabolisme, dan kualitas hidup. Massa otot adalah salah satu prediktor terkuat penuaan yang sehat, termasuk mengurangi risiko diabetes tipe 2 dan penyakit jantung.

Tubuh manusia punya kemampuan adaptasi yang luar biasa di usia berapa pun — hanya butuh input yang lebih cerdas. Mulai sekarang, karena penelitian sangat mendukung bahwa tidak ada kata terlambat untuk membalikkan tren ini.

Jelajahi Nutrisi Terkait

Artikel ini hanya untuk tujuan informasi umum dan bukan merupakan saran medis. Selalu konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berkualifikasi sebelum melakukan perubahan pada pola makan, rutinitas olahraga, atau penggunaan suplemen Anda.