🎁 Join free & get 20% off as a member SingaporeOther Countries

Setelah 35, Tubuh Makin Lambat Membangun Otot — Ini yang Penelitian Bilang

Published: 2026-06-08·Ditulis oleh tim editorial My Health N Wellness
⏱️ 6 menit baca • Berbasis bukti

Setelah 35, Tubuh Makin Lambat Membangun Otot — Ini yang Penelitian Bilang

Pola makan masih sama, latihan juga sama kerasnya, tapi entah kenapa hasilnya butuh waktu dua kali lebih lama. Familier? Kalau usiamu sudah lewat 35, ini bukan cuma perasaanmu — memang ada pergeseran biologis yang nyata, dan para peneliti sudah cukup banyak mempelajarinya.

Apa yang Sebenarnya Berubah Setelah 35?

Mulai sekitar usia tiga puluhan atau empat puluhan, tubuh perlahan mulai kehilangan massa otot, dan lajunya cenderung lebih cepat pada orang yang kurang aktif. Para ilmuwan menyebut proses ini sarkopenia — penurunan bertahap otot rangka yang makin cepat seiring usia. Di dekade-dekade berikutnya, dampaknya jadi jauh lebih sulit diabaikan.

Tapi ini bukan cuma soal kehilangan otot yang sudah ada. Masalah sebenarnya adalah seberapa efisien tubuhmu membangunnya kembali. Setelah latihan beban atau tekanan fisik, otot perlu diperbaiki dan tumbuh — proses yang disebut sintesis protein otot. Seiring usia, proses ini bisa jadi kurang efisien. Otot tetap menerima sinyal untuk membangun diri, tetapi responsnya mungkin tumpul. Sebagian besar penelitian ini dilakukan pada lansia, jadi kapan tepatnya hal ini dimulai belum begitu jelas.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa jaringan otot yang lebih tua memperlihatkan respons anabolik yang lebih rendah terhadap asupan protein dibanding jaringan yang lebih muda — artinya makanan yang sama, yang bisa memacu pertumbuhan otot pada usia 25 tahun, mungkin kurang efektif pada orang yang lebih tua.

Peran Hormon dan Peradangan

Sebagian penyebab perubahan ini mungkin hormonal. Testosteron, hormon pertumbuhan, dan IGF-1 — semuanya terlibat dalam perbaikan otot — cenderung menurun seiring usia. Estrogen, yang juga tampaknya berperan melindungi otot, turun di sekitar masa menopause pada perempuan.

Pada saat yang sama, peradangan kronis tingkat rendah makin umum seiring usia. Para peneliti menduga ini bisa membuat otot kurang responsif terhadap olahraga dan makanan. Bayangkan seperti membangun rumah saat tim pembersih masih terlalu lambat menyingkirkan puing-puingnya.

Gaya hidup kurang gerak memperparah semuanya

Bagi banyak pekerja — entah kamu terpaku di meja kantor atau menghabiskan perjalanan pulang-pergi dengan duduk di KRL atau MRT — gerak harian mungkin sudah rendah. Aktivitas sehari-hari yang berkurang berarti lebih sedikit sinyal yang dikirim ke otot untuk tetap aktif, dan ini bisa menambah penurunan alami akibat usia.

Apa yang Terbukti Efektif Menurut Penelitian

Kabar baiknya, penelitian menunjukkan beberapa langkah praktis. Penurunan itu nyata, tetapi mungkin jauh dari tak terelakkan.

1. Latihan beban — dan dilakukan secara konsisten

Angkat beban atau latihan tahanan dengan berat badan sendiri termasuk cara yang paling banyak direkomendasikan untuk menjaga otot di usia berapa pun. Penelitian menunjukkan bahwa latihan beban dapat membantu mempertahankan kekuatan otot dan fungsi fisik pada lansia, meskipun efeknya pada ukuran otot kurang konsisten. Kata kuncinya adalah progresif: kamu perlu terus menantang otot, bukan sekadar mempertahankan rutinitas yang nyaman.

2. Prioritaskan protein — dan sebarkan sepanjang hari

Protein mungkin justru makin penting seiring usia, bukan makin kurang. Karena respons sintesis protein ototmu bisa tumpul, mengonsumsi protein yang disebar di beberapa waktu makan — bukan menumpuknya semua saat makan malam — mungkin membantu tubuh memanfaatkannya lebih baik, meski bukti jangka panjangnya masih terbatas. Penelitian menunjuk leusin, asam amino yang ada di protein hewani dan sebagian protein nabati, sebagai sinyal kunci untuk pembentukan otot.

Kalau makan sehari-harinya berat ke karbohidrat — nasi goreng, gorengan dari warung, makan siang nasi campur tapi porsi proteinnya cuma sedikit — mungkin udah saatnya nih cek ulang komposisi piringmu.

3. Pastikan vitamin D dan omega-3 cukup

Dua nutrisi yang sering muncul dalam literatur kesehatan otot adalah vitamin D dan asam lemak omega-3. Vitamin D berperan dalam fungsi otot, dan kekurangannya dikaitkan dengan kelemahan otot. Studi-studi kecil menunjukkan omega-3 mungkin memperkuat respons sintesis protein otot pada lansia, tetapi studi lain tidak menemukan manfaat yang jelas untuk ukuran atau kekuatan otot, jadi penelitian di sini masih terbatas.

4. Tidur cukup dan kelola stres

Tidur adalah jendela penting untuk pemulihan otot. Tidur yang buruk dikaitkan dengan kortisol yang lebih tinggi — hormon stres yang dapat memicu pemecahan otot — dan respons pembentukan otot yang lebih lemah. Kalau kamu memangkas jam tidur demi menambah jam kerja, bisa jadi kamu justru bekerja melawan latihanmu sendiri.

Perlu dicatat: Profesional muda, terutama di perkotaan, makin sadar soal suplemen. Tapi suplemen adalah pelengkap dari nutrisi dan latihan yang baik — bukan penggantinya. Membereskan dasarnya dulu jauh lebih penting.

Perubahan Mindset yang Paling Penting

Setelah usia 35, tujuannya bergeser sedikit. Kamu tidak lagi membangun otot sekadar untuk penampilan — kamu membangunnya sebagai investasi jangka panjang untuk mobilitas, kesehatan metabolik, dan kualitas hidup. Massa otot yang rendah dikaitkan dengan masalah metabolik dan kardiovaskular, termasuk risiko diabetes tipe 2 yang lebih tinggi, meski sebagian besar buktinya bersifat observasional.

Tubuh tetap mampu beradaptasi sampai usia lanjut. Hanya saja ia butuh masukan yang lebih cerdas untuk mengimbanginya. Mulai dari sekarang — penelitian menunjukkan bahwa latihan dan nutrisi yang baik masih bisa membantu di usia berapa pun.

Jelajahi Nutrisi Terkait

Lanjutkan membaca

Artikel ini hanya untuk tujuan informasi umum dan bukan merupakan saran medis. Selalu konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berkualifikasi sebelum melakukan perubahan pada pola makan, rutinitas olahraga, atau penggunaan suplemen Anda. Suplemen tidak dapat menggantikan obat, dan tidak boleh digunakan untuk mencegah atau mengobati penyakit.